logo

banner1 Big

banner2 small  

Gugatan Mandiri

 

Penelusuran

Jadwal Sidang

E-Court

Informasi Pengaduan 

banner3 small

Ditulis oleh Admin. Dilihat: 1197

Jenis Perkara Yang Menjadi Kewenangan Pengadilan Agama
(Pasal 49 UU No. 3 Tahun 2006)

 

1. Perkawinan                                                                                                                                                                                      
  a. Izin beristeri lebih dari seorang;                                                                                                                                          
  b. Izin melangsungkan perkawinan bagi orang yang belum berusia 21 (dua puluh satu) tahun, dalam hal orang tua wali, atau keluarga dalam dalam garis lurus ada perbedaan pendapat;
  c. Dispensasi Kawin;
  d. Pencegahan Perkawinan;
  e. Penolakan Perkawinan oleh Pegawai Pencatat Nikah;
  f. Pembatalan Perkawinan;
  g. Gugatan Kelalaian atas Kewajiban Suami dan Isteri;
  h. Perceraian karena Talak;
  i. Gugatan Perceraian;
  j. Penyelesaian Harta Bersama;
  k. Penguasaan Anak;
  l Ibu dapat memikul biaya pemeliharaan dan pendidikan anak bilamana bapak yang seharusnya bertanggungjawab tidak mematuhinya;
  m. Penentuan kewajiban pemberian biaya hidup oleh suami kepada bekas isteri atau penentuan suatu kewajiban bagi bekas isteri;
  n. Putusan tentang sah tidaknya seorang anak;
  o. Putusan tentang Pencabutan Kekuasaan Orang Tua;
  p. Pencabutan Kekuasaan Wali;
  q. Penunjukan orang lain sebagai wali oleh pengadilan dalam hal kekuasaan seorang wali dicabut;
  r. Penujukan seorang wali dalam hal seorang anak yang belum cukup umur 18 (delapan belas) tahun yang ditinggal kedua orang tuanya;
  s. Pembebanan kewajiban ganti kerugian atas harta benda anak yang ada dibawah kekuasaannya;
  t. Penetapan asal-usul seorang anak dan penetapan pengangkatan anak berdasarkan hukum Islam;
  u. Putusan tentang hal penolakan pemberian keterangan untuk melakukan perkawinan campuran;
  v. Pernyataan tentang sahnya perkawinan yang terjadi sebelum Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan;
2. Waris, meliputi : Penentuan siapa yang menjadi ahli waris, penentuan mengenai harta peninggalan, penentuan bagian masing-masing ahli waris, dan melaksanakan pembagian harta peninggalan tersebut, serta penetapan pengadilan atas permohonan  seseorang tentang penentuan siapa yang menjadi ahli waris, penentuan bagian masing-masing ahli waris;
3. Wasiat;
4. HIbah;
5. Wakaf;
6. Zakat;
7. Infaq;
8. Shadaqah;
9. Ekonomi Syari'ah, meliputi :
  a. Bank Syari'ah;
  b. Lembaga Keuangan Mikro Syari'ah;
  c. Asurasnsi Syari'ah;
  d. Reasuransi Syari'ah;
  e. Reksadana Syari'ah;
  f. Obligasi Syari'ah dan Surat Berharga Berjangka Menengah Syari'ah;
  g. Sekuritas Syari'ah;
  h. Pembiayaan Syari'ah;
  i. Dana Pensiun Lembaga Keuangan Syari'ah;
  j. Bisnis Syariah