logo

banner1 Big

banner2 small  

Gugatan Mandiri

 

Penelusuran

Jadwal Sidang

E-Court

Informasi Pengaduan 

banner3 small

Ditulis oleh Sulton Nul Arifin. Dilihat: 485

6.805 Istri di Kabupaten Bandung Gugat Cerai Suami, Efek "Layangan Putus?"

 statistik perkara 2021Foto: Statistik perkara PA Soreang tahun 2021

“Lidya Danira itu siapa mas? Namanya banyak sekali loh di sini, kamu beli penthouse seharga 5 M, oh bukan hanya itu, kamu juga sudah mengajaknya ke Cappadocia, it’s my dream mas, my dream, not hers.”

Begitulah kira-kira percakapan antara kinan dan aris di web series layangan putus, yang sekaligus mengilustrasikan betapa persoalan rumah tangga bisa menjelma menjadi persoalan horror dan mengerikan, dapat merubah pribadi lembut menjadi keras layaknya batu, merubah si protagonis menjadi antagonis. Persoalan antara suami dan istri dengan berbagai penyebabnya tidak jarang berakhir di meja hijau Pengadilan.

Pengadilan Agama (PA) Soreang yang salah satu kewenangannya adalah memeriksa dan mengadili perkara perceraian dan persoalan terkait perkawinan lainnya juga menjadi muara para pihak menyelesaikan persoalan rumah tangganya.

Sepanjang tahun 2021, PA Soreang telah menerima 8.579 perkara perceraian. Dari semua perkara perceraian tersebut, sebanyak 6805 perkara perceraian ternyata diajukan oleh para istri yang kemudian dikenal dengan perkara cerai gugat, sisanya yaitu 1774 diajukan oleh para suami yang dikenal selanjutnya dengann perkara cerai talak. Dengan demikian sebanyak 79% perkara perceraian datang dari pihak istri.

Beberapa alasan para istri menggugat suaminya yang dominan diantaranya karena alasan ekonomi. Faktor nafkah yang dinilai tidak dapat dipenuhi oleh para suami ini sering menjadi pemicu perselisihan dan pertengkaran antara dua anak manusia yang disatukan dalam akad nikah. Keadaan ini diperparah dengan kondisi Indonesia dan dunia global yang sedang dilanda Pandemi Covid-19 yang membuat sektor perekonomian tidak bergerak secara normal.

Faktor berikutnya yang sering ditemukan adalah masalah adanya wanita idaman lain (WIL). Faktor wanita idaman lain ini juga banyak menjadi sebab para istri menyeret suaminya ke meja hijau PA Soreang untuk mengakhiri pernikahannya, bahkan terkadang si suami sudah menikahi wanita idaman lain tersebut secara siri. Faktor selanjutnya adalah KDRT yang diterima oleh si istri serta perselisihan tentang tempat tinggal.

Pada beberapa kasus, ternyata perceraian dengan alasan faktor ekonomi sebagai sebab perselisihan dan pertengkaran, ditemukan fakta salah satu suami-istri tersebut atau bahkan kedua-duanya menikah di bawah usia perkawinan menurut peraturan perundang-undangan. Hal ini berkorespondensi dengan data perkara permohonan Dispensasi Kawin yang diajukan ke PA Soreang selama periode tahun 2021 sebanyak 347 perkara dan menduduki peringkat ketiga perkara terbanyak setelah Cerai Gugat dan Cerai Talak.

Sedangkan untuk perkara cerai talak yang diajukan oleh para suami, biasanya sebab yang memicu perselisihan dan pertengkaran antara suami istri diantara karena si suami merasa istrinya tidak mensyukuri dan selalu kurang dengan nafkah yang diberikan, atau selalu membantah apa yang disampaikan oleh si suami dan karena ada Pria Idaman Lain (PIL). Sebab para suami mengajukan cerai talak juga banyak yang dipicu oleh persoalan ekonomi.

Dengan demikian, baik perkara cerai diajukan oleh istri maupun suami, sebab-sebabnya juga mempunyai kemiripan yaitu diantaranya seputar masalah ekonomi dan perselingkuhan.

Di sisi lain dominasi perkara perceraian yang diajukan oleh para istri menyiratkan bahwa masyarakat kabupaten Bandung utamanya para istri sudah sadar dan melek hukum sehingga mereka mempercayakan penyelesaian masalah hak dan kewajiban dalam rumah tangga kepada Pengadilan, dalam hal ini PA Soreang.

“Mereka, para istri tahu tentang haknya untuk mendapatkan nafkah yang layak dari suaminya, mereka tahu bila KDRT oleh suaminya itu merupakan tindak pidana, mereka tahu bila istri tidak selayaknya diselingkuhi oleh suaminya, mereka tahu bila istri pun berhak mendapatkan kehidupan rumah tangga yang harmonis” tukas Miftahul Arwani salah seorang Hakim yang sekaligus menjabat Juru Bicara. Lebih lanjut ia menjelaskan memang dalam beberapa kasus, ada pula istri yang mempunyai gaya hidup tinggi, sehingga nafkah dari suaminya selalu tidak cukup karena merasa kurang dengan gaya hidupnya, kemudian diajukanlah perceraian.